Pages

Minggu, 16 Mei 2010

Sastra Jawa Klasik


Puisi Jawa Klasik
Puisi Jawa Klasik merupakan bagian ynag tak terpisahkan dari khazanah kesusastraan Jawa tradisional. Karya satra sejenis ini pada umumnya terdokumentasikan dalam naskah-naskah tradisional kuno yang tersimpan di berbagai museum dan perpustakaan di Indonesia, seperti Perpustakaan Nasional Jakarta, Perpustakaan Sonobudoyo Yogyakarta, Perpustakaan Pura Pakualaman Yogyakarta, Perpustakaan Keraton Surakarta, Perpustakaan Radya Pustaka Surakarta, Perpustakaan Balai Bahasa Yogyakarta, serta Perpustakaan Fakultas Sastra Universitas Indonesia.
a. Ragam Puisi Jawa Klasik
Kategori puisi Jawa Klasik diberikan kepada karya-karya satra Jawa dalam metrum macapat untuk membedakan pemahaman terhadap pengertian puisi Jawa kuna yang bermetrum kakawin, puisi, Jawa Tengahan ynag bermetrum kidung, dan puisi Jawa modern yang bermetrum geguritan. Puisi Jawa klasik pada umumnya ditulis dalam ragam bahasa Jawa baru dengan menggunakan huruf Jawa atau Huruf Arab Jawa. Kehadiran puisi Jawa bermetrum macapat dalam khazanah kesusastraan Jawa senapas dengan denyut nadi kehidupan keraton Jawa. Puisi Jawa klasik yang sudah ada dapat dikategorikan ke dalam kelompok-kelompok besar, yakni: (1)sastra babad, (2) sastra piwulang, (3) sastra pewayangan, (4) sastra Islam (suluk, wirid, dan menak). Diambil dari buku Puisi Jawa Klasik karya Yusro Edy Nugroho 2008
1. Sastra Babad
Sastra babad umumnya berisi peristiwa-peristiwa yang berhubungan dengan sejarahkerajaan atau tokoh-tokoh penting dalam kerajaan yang diceritakan secara naratif dalam metrum digubah dalam bahasa Jawa baru. Sebagian besar naskah digubah dalam rentan masa 250 tahun yang bereakhir dengan surutnya kosakata dari bahasa percakapan sehari-hari yang dicampur dengan kosakata Kawi. Beberapa contoh karya sastra babad yang membatasi diri pada wilayah atau lokasi diantaranya adalah Babad Tanah Jawa, Babad Mangir, Babad Pati, Babad Demak, Babad Majapahit, Babad Giyanti, dan Babad Mentawis. Sementara karya sastra babad yang berfokur pada salah satu tokoh antara lain Babad Sultan Agung, Babad Jaka Tingkir, Babad Arung Binang, dan Babad Dipanegara. Diambil dari buku Puisi Jawa Klasik karya Yusro Edy Nugroho 2008

2. Sastra Piwulang
Disamping karya sastra babad, pada masa Mataram baru muncul karya sastra yang digunakan sebagai ajaran atau piwulang dalam masyarakat. contoh Kitab Nitisastra, Nitisruti, Dharmasunya, Panitisastra, Wulang Reh, Wulang sunu, Wulang Putra, Wulang Putri, sasana Sunu, Wedhatama, Tripama, Paliatma, cempored, dan Jaka LOdang. Munculnya kitab sastra piwulang merupakan salah satu bukti pembaruan dibidang sastra jawa. Sastra piwulang memeiliki kandunagn ini sebagai nasihat atau lain merupakan kritik sosial dan ajaran ketuhanan.
Pigeaud (1967:104-105) menempatkan sastra piwulang sebbagai karya sastra didactic and moralistic yang muncul sejak abad ke -14. Sastra piwulang pada zaman Surakarta berkembang sangat pesat sebagai puncak perpaduan budaya Islam Jawa yang dimotori oleh para pujangga dan raja-raja jawa pada masa itu seperti R. Ng. Ranggawarsita, Yasadipura, Mangkunegara IV, dan Pakubuwana IX. Diambil dari buku Puisi Jawa Klasik karya Yusro Edy Nugroho 2008

0 komentar: